Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Sentuhan Sebuah Ambisi

Saat aku terbuai dengan hayalan yang memabukkan angan aganku
Terbawalah aku ke alam yang maha luas dan membingungkan
Atara sadar dan impianku
Terciptalah kegalauan yang mencekam jiwa
Menjauhkan diriku dari segala yang mendekat
Melemparkanku ke arah yang aku tidak mengerti

Hingga aku terpuruk di sini
Di tempat yang takterjamah oleh manusia
Hanya sentuhan impian dan hayalan
Serta pelukan hangat sebuah ambisi
Dekapan sebuah cita cita yang belum tentu pasti

Terpuruk terpuruk dan terpuruk
Dalam sebuah kesombongan dan tuntutan

pernah saya publikasikan (2010)
Selengkapnya »

Dalam Rengkuhan

Sejenak kuterpana menatap gambarmu
Begitu indah tatapan matamu di situ
Menatap dengan tajam ke arahku
Sekilas senyummu getarkan dadaku
Bangkitkan hayalan dalam anganku
Merengkuh kebahagiaan bersamamu

Terlintas dalam benakku bayangan dirimu
Tersenyum dan melambaikan tangan padaku
Aku hanya terpaku di tempatku
Manatapmu dengan sejuta keraguan di hatiku
…hmm……………………
Akankah kugapai lambaian tanganmu
Pantaskah aku menyentuh lembut jemari tanganmu

Masih terngiang merdu di telingaku
Bisikan lembut kata cintamu
Syahdu mengusik relung relung hatiku
Masih kurasa getar getar rindu di dadaku
Yang menyiksa dan menikam jantungku
Ciptakan gundah gulana dalam setiap langkahku
……….ach………

Adakah kau sengaja ciptakan kagalauan bagiku
Mengapa kau tuang rindu di dadaku
Mengapa kau bisikkan kata cinta di telingaku
Mengapa kau rejam jiwaku dengan bayangmu
Ataukah kau …………… ach
Maaf aku terlanjur menikmati bisikan cintamu
Maaf aku terlanjur terbuai dalam dekapan rindumu
Maaf aku …………..

Salahkah aku jika aku merindukanmu
Salahkah aku jika aku menikmati bisikan cintamu
Salahkah aku jika aku mendambakan bahagia bersamamu
Salahkah aku jika aku ……….
Salahkah aku jika ………..
Salahkah aku ……………..
Salahkah ……….

Awang-awang Kumelap, 3 Mei 2008



pernah saya publikasikan (2008)
Selengkapnya »

Nalika Sliramu Lunga

nalikaning aku turu sliramu tekan ing impenku
nalikaning aku tangi sliramu tekan ing angenku
nalikaning aku sadar sliramu adoh saka awakku
duh.....

ing sajroning impenku sliramu nyanding aku
ing sajroning uripku sliramu bareng aku
ing sajroning netraku sliramu mesem marang aku
ing sajroning dongaku jenengmu tansah kumanthil ing lambeku

sliramu lunga ninggal angen angen
sliramu lunga ninggal pangarep arep
sliramu lunga ninggal impen kang durung kelakon

aku ora bisa omong apa apa
aku ora bisa crita apa apa
aku ora bisa menehi apa apa
aku ora bisa nyangoni apa apa

mung tetesing waspa
mung dunga kang bisa nguntabake lakumu
muga muga sliramu nemoni nugrahaning gusti
muga muga sliramu nemoni apa kang mbok gayuh

Awang-awang kumelap 24 mei 2008
Selengkapnya »

Sajak Ilalang

aku adalah ilalang di tengah rimba belantara
hidupku jauh dari gemerlap dunia
hanya berteman dengan kicau burung dan lolongan srigala
hanya berkawan auman raja rimba dan desisan ular berbisa
hanya bersahabat dengan semilir angin rimba

aku hanyalah sebatang ilalang
tubuhku bergoyang kala ada yang datang
daunku berbisik kala ada yang mengusik
meski hanya sekedar numpang lewat
ataupun menyembuyikan diri dari mara bahaya

aku hanyalah sebatang ilalang
yang terbiasa dengan segala kesunyian
yang terbiasa dengan beragam kenestapaan
yang terbiasa dengan sejuta penantian
yang terbalut dengan ketidak pastian

aku hanyalah sebatang ilalang
yang tumbuh dalam kenestapaan
yang berkembang jauh dari riuh kehidupan
walau dicerca dan ditempa hinaan
aku tetap tersenyum menatap alam yang luas dan gunung yang menjulang


ketika ada yang menghampiriku dengan membawa derita
membawa duka derita dari miskin dan papa
dia akan menganggapku sebagai sahabat
dia akan menganggapku tempat berlindung
dia jadikan aku penghadang terik matahari
dia jadikan aku penghangat dari dingin udara malam
dia anggap aku bagian dari istananya

namun.........
ketika dia mulai merasa tumbuh dengan keindahanya
ketika dia mulai bisa menikmati nikmatnya jagat raya
ketika dia bisa meraih seonggok permata
perlahan diriku diturunkan dari istananya
perlahan diriku dilepas dari dinding persembunyianya
dibuang dan dibakar karna aku sudah tidak berguna

aku hanya ilalang yang terbiasa dihina
dibuang, diinjak dan dicerca
aku hanya sebatang ilalang
yang tetap tersenyum meski dianggap takberguna
munkin memang sudah lupa dan sudah biasa

awang-awang kumelap, 28 april 2008


pernah saya publikasikan (2008)
Selengkapnya »

Bercermin

Sejenak kutengok kebelakang
  • Begitu sombong diriku dg bekal kemiskinanku
  • Begitu angkuh diriku dg modal kenekatanku
  • Begitu lincah diriku menutupi kelemahanku dg modal senyum dan tawaku
  • Begitu pintar diriku membunuh lawan dg modal kejujuranku
  • Begitu kuat diriku memepertahankan logika dg modal realita dan fakta
  • Begitu tabah diriku menikmati kehidupan dg kemiskinan harta
Dan Tuhan selalu mengiringi dlm setiap gerakku, setiap detak jantungku, segala aktifitas otak dan hatiku serta setiap hembusan nafasku

pernah saya publikasikan (2010)
Selengkapnya »