Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts

Anak Durhaka yang Dijadikan Panutan

Anak durhaka itu biasanya diidentikan dengan anak sesat atau dianggap jahat karena merupakan anak yang tega dan berani melawan orang tua demi kepentingannya sendiri

Di dalam cerita religi atau keagamaan (agama Ibrahim atau agama samawi) ada dua cerita legendaris tentang anak durhaka, dua cerita tersebut memiliki perbedaan makna yang sangat jauh, walaupun inti cerita tetap sama, yaitu tentang anak durhaka atau anak yang tega dan berani melawan orang tua demi kepentingannya sendiri atau demi keinginannya sendiri

Cerita anak durhaka yang pertama adalah cerita tentang anak durhaka yang dianggap salah, dia bernama Kan'an anak dari Nuh (Nabi Nuh), dia dianggap durhaka karena melawan perintah orang tuanya. Pada kisah ini diceritakan bahwa Kan'an melawan perintah bapaknya untuk masuk perahu karena akan terjadi banjir bandang

Kan'an tetap tidak mau naik perahu meski air bah mulai naik ke daratan, dia memilih naik gunung untuk menghindar dari air bah. Sungguh malang nasib Kan'an dalam cerita ini, karena dia tetap tidak mau ditolong oleh bapaknya, dan akhirnya tewas tenggelam, dan sampai sekarang tokoh cerita yang bernama Kan'an tetap dianggap bersalah karena tidak mau menurut pada perintah Bapaknya sehingga dia tewas tenggelam

Cerita anak durhaka yang kedua adalah cerita tentang anak durhaka yang tidak pernah dianggap salah, bahkan dia dielu-elukan dan dianggap sebagai panutan,  dia bernama Ibrahim, anak seorang pembuat patung yang kemudian dijual untuk kehidupan sehari-hari, dia tidak pernah dianggap sebagai anak durhaka meskipun dia melawan orang tuanya

Pada kisah ini diceritakan bahwa Ibrahim adalah anak pembuat patung, yang kemudian patung itu dijual oleh bapaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seiring dengan perjalanan waktu Ibrahim merasa tidak sejalan dengan kepercayaan yang dianut oleh orang tuanya dan orang-orang di lingkungannya, sampai suatu saat Ibrahim menemukan makna Tuhan menurutnya dan menjadikan ketidak cocokannya merupakan perbedaan yang sangat besar. Dan akhirnya patung-patung bikinan bapaknya dianggap.sebagai berhala yang dijadikan sesembahan bagi orang tuanya dan orang-orang di lingkungannya, bahkan di kerajaan yang Ibrahim beserta orang tuanya sebagai warganya

Berdasar dari perbedaan tersebut, akhirnya Ibrahim memberi penjelasan pada orang tuanya untuk menghentikan pembuatan patung yang dianggap sebagai berhala dan mengajak untuk mengikuti apa yang telah ditemukannya, Ibrahim menjelaskan berulang kali bahwa apa yang dilakukan orang tuanya (bapaknya) beserta orang-orang adalah salah, karena menyembah patung atau menjadikan patung (berhala) sebagai sesembahan. Namun karena kepercayaan yang dianut oleh orang tuanya dan orang-orang adalah kepercayaan yanh sudah lama dianut, maka tidak mau berubah begitu saja untuk meninggalkan kepercayaan itu

Ibrahimpun akhirnya jengkel dan mengahcurkan semua patung-patung bikinan bapaknya yang merupakan satu-satunya mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam kisah ini tidak diceritakan secara detail bagaimana proses Ibrahim melawan orang tuanya kecuali menghancurkan patung atau berhala-berhala bikinan bapaknya, sampai akhirnya Ibrahim ditangkap raja karena menyebarkan paham yang berbeda dengan apa yang dianut oleh kerajaan

Dan Ibrahim dihukum oleh raja, dalam kisah ini Ibrahim dibakar hidup-hidup, namun tidak cidera sama sekali, dan akhirnya sang raja harus melawan pasukan nyamuk, kemudian salah satu dari tentara nyamuk itu masuk ke hidung raja yang mengakibatkan sang raja tewas. Pada akhir cerita Ibrahim dianggap sebagai Nabi (panutan) yang kemudian menurunkan (memiliki keturunan) nabi-nabi

Dari kisah di atas, bisa disimpulkan bahwa tidak selamanya anak yang melawan kehendak orang tua itu salah, bahkan ada yang dianggap sebagai panutan atau sebagai Nabi atau dianggap sebagai tokoh pembawa kebaikan. Tidak menggunakan istilah "Dia kan Nabi yang diangkat oleh Tuhan" namun di sini memandang dari sisi "Anak Durhaka" yaitu "Anak yang berani melawan orang tuanya sendiri demi kepentingan pribadi". Atau coba bayangkan jika Anda menjadi orang tua dari Ibrahim, apa yang akan Anda lakukan..??

Selengkapnya »

Belajar Dzolim di Madarasah

Dzolim (arab) yang bahasa Indonesianya adalah meletakkan atau memposisikan sesuatu tidak pada tempatnya, madarasah (arab) yang bahasa Indonesianya adalah sekolahan, namun biasanya Madarasah adalah sekolahan yang sistem pendidikannya berada dibawah naungan departemen agama. Mengapa dzolim yang biasanya dianggap tidak baik kok malah dipelajari, di madarasah lagi? Padahal pada pelajaran agama terutama pelajaran akhlak diterangkan bahwa dzolim merupakan salah satu perbuatan yang tidak terpuji, dan kejadiannya memang mayoritas terjadi di madarasah

Teringat beberapa waktu yang telah berlalu, bapak saya adalah seorang guru yang menyelesaikan pendidikan di PGA (Pendidikan Guru Agama) dan awalnya memang sesuai bidangnya yaitu guru agama di sebuah SD. Namun setelah beberapa lama mengajar di SD tersebut bapak saya ada yang meminta untuk mengajar di sebuah madarasah yang setingkat dengan SD dan tempatnya tidak jauh dari tempat tinggal kami, namun karena di madarasah maka mata pelajaran yang diajarkan bukan pendidikan agama yang sesuai dengan keahliannya tetapi disuruh menyampaikan pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia

Pada saat usia sekolah, saya juga sempat mengenyam salah satu madarasah, pada waktu itu madarsah yang setara dengan SMP, selama tiga tahun menikmba ilmu di madarasah tersebut dan dari semua guru yang ada hampir semuanya tamatan PGA, namun beliau-beliau mengajarkan mata pelajaran sesuai pelajaran di sekolah pada umumnya, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Fisika dan lain-lainnya, itu dulu

Dan ada yang terasa aneh, kerena terjadi di abad 21 ini, salah satu madarasah yang setingkat dengan SD memiliki seorang guru yang mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan apa yang dipelajarinya saat belajar dulu, namun anehnya setelah proses belajar mengajar berlangsung lama dan menghasilkan beberapa alumni peserta didik guru tersebut malah tidak diberi jam mengajar dan diganti dengan seorang guru yang kurang memahami dengan pelajaran tersebut, bahkan bisa dikatakan bukan bidangnya namun tetap dipaksakan agar tetap dipegangnya dan jelas akibatnya berdampak pada kemampuan dan pemahaman siswa pada mata pelajaran tersebut

Pernah saya bertanya pada sesorang yang saya anggap paham di bidang akhlak dan budi pekerti, "Apakah hal-hal seperti cerita di atas bisa dikatakan dzolim, kan menempatkan seseorang tidak pada bidang dan keahliannya?"

Namun jawabnya, "Sebenarnya jika diamati dari bahasa sih memang dzolim, namun karena kebutuhan kan bisa dimaklumi." Dan saya bergumam, "Wah berarti hukumnya hanya karena kebutuhan, dari yang tidak baik menjadi dianggap baik, wah wah."

Jika membaca, mengamati dan memahami cerita di atas, ada pertanyaan yang terganjal di hati, "Siapa yang dzolim dan siapa yang telah didzolimi?" Hanya orang-orang yang bernurani jernih saja yang pantas menjawabnya.

Dalam renungan teringat do'a nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan paus "La ilaha illa anta subkhanaka inni kuntu minnadz dzolimin (tiada Tuhan selain Engkau maha suci Engkau sesungguhnya kami dari golongan orang-orang dzolim)"

pernah saya publikasikan (2012)
Selengkapnya »

Bunga dan Kumbang apakah identik dengan Wanita dan Pria?

Begitu indahnya sekuntum bunga segar yang sedang mekar di taman senantiasa menyimpan sejuta manisnya madu di balik kelopaknya dan menyiapkan madunya serta bersolek diri untuk memikat kumbang agar datang menghampiri untuk sekedar menghisap sari dan madunya kemudian kumbangpun pergi begitu saja setelah madu dan sari sari bunga tersebut didapat meninggalkan bunga tanpa ada kata kata yang terucap dari kumbang.

Terasa indah jika seorang wanita dikatakan telah menjadi bunga hati dan bunga tidur seorang pria, hatinyapun menjadi berbunga bunga seakan tersanjung dan melayang layang sejenak, meletupkan kobar kobar asmara di hati dan angan angannya, sementara sang pria mencoba lebih mendekat dengan rayuanya laksana kumbang yang sedang mengitari sekuntum bunga yang sedang mekar dengan indahnya.

Ada kalanya seorang wanita yang menganggap dirinya seperti sekuntum bunga atau juga merupakan sebuah budaya dari kaum wanita yang menganggap dirinya adalah sekuntum bunga dengan sejuta keindahan yang tersimpan didalamnya dan dia juga memepertahankan sifat dasar bunga yang diam menunggu tanpa bisa memilih kumbang yang mana yang akan menhinggapinya, maka dia sering berfikir "aku kan wanita, kamu dong yang nyamperin aku, masak aku yang ke tempatmu, ga pantas" dia juga merasa terhina jika harus mendatangi tempat pria, meskipun pria tersebut disukainya, hal demikian masih sering terlihat atau terdengar.

Begitu juga seorang pria yang menganggap dirinya seperti kumbang yang bebas terbang dan hinggap kemana dia suka dia selalu berfikir bahwa wanita adalah sekuntum bunga yang menyimpan sejuta manisnya madu yang sewaktu waktu bisa dihinggapi kemudain dihisap begitu saja, dia juga sering berfikir "aku kan pria mestinya aku yang datang menhampirinya, bukan dia yang datang kepadaku" dia akan merasa mendapat rejeki yang besar ketika didatangi seorang wanita meski wanita tersebut kurang menarik hatinya.Jika seorang wanita menganggap dirinya sekuntum bunga, siapkah dengan segala resiko seperti sekuntum bunga yang begitu saja ditinggalkan oleh seekor kumbang setelah madu dan sari sarinya terhisap oleh kumbang, kemudian layu setelah kumbang pergi meninggalkanya?

Jika seorang pria menganggap dirinya seperti kumbang yang senantiasa bergerak dengan bebasnya memilih bunga yang mana yang akan dihinggapi kemudian dinikmati sari sari dan manis madunya kemudain ditinggalkan begitu saja, siapkah dengan segala resiko bahwa kumbang tidak pernah memeiliki bunga, dan relakah jika bunga tersebut dihinggapi serta dihisap madunya oleh kumbang kumbang yang lain?

Dalam hal ini sepertinya yang lebih beruntung adalah pria, sebenarnya tidak demikian karena masing masing manusia yang normal memiliki rasa ingin menguasai apa yang disenanginya, wanita akan merasa sakit hati jika pria yang disenanginya bersama wanita lain, demikian halnya pria juga merasa seperti itu, pria akan merasa sakit hati jika wanita yang disenanginya bersama pria lain.

Wanita yang menganggap dirinya seperti bunga biasanya kurang bisa mengharagi pria, dengan seenaknya main perintah dan selalu menganggap dirinya benar hampir dalam segala hal meski dia sebenarnya mengerti kalau itu salah.

Pria yang menganggap dirinya seperti kumbang biasanya juga kurang bisa menghargai wanita, dengan seenaknya dia berganti ganti pasangen tanpa pernah peduli tindakannya telah menyakiti hati, dan biasanya pria tersebut merasa dirinya adalah seorang jagoan.

Wanita yang menganggap dirinya seperti bunga dan pria yang menganggap dirinya seperti kumbang sama sama terbiasa menikmati kesenangan sesaat dan ketidak nyamanan yang berkepanjangan, dan sama sama begitu mudahnya melupakan kenangan yang telah dilaluinya.

Padahal pada dasarnya wanita dan pria saling membutuhkan dan sama sama ingin menikmati kehidupan yang nyaman secara berkelanjutan, untuk menikmati kenyaman harus saling menghormati dan menghargai, siapa yang merasa butuh harus mencari, siapa yang merasa dibutuhkan harus siap memberi, dengan saling mengerti akan kondisi maka akan tercipta kenyamanan bersama antara wanita dan pria yang berkepanjangan.

Bagaimana dengan anda sekarang?


pernah saya publikasikan (2009) 
Selengkapnya »

Seniman apa Olahragawan yg lebih mengharumkan nama bangsa?

Sungguh merupakan suatu kebanggaan tersendiri jika bisa memberikan sumbangsih untuk negara apa lagi jika sumbangsih yg diberikan mampu membawa nama harum negri ini, akan membuat hati terasa besar ketika ditanya "where you from" dengan bangga akan menjawab "Indonesia", namun banggakah kita dg Indonesia yg kaya akan budaya dan keindahan alam serta memiliki beberapa keajaiban dunia?

Namun jika diamati sepertinya rasa bangga terhadap Indonesia atau jiwa nasionalisme kurang mengakar pada warga negara Indonesia ini.

Jika ada pertanyaan "Seniman apa Olahragawan" yg lebih banyak memberikan sumbangsih untuk mengharumkan nama bangsa?"

Mungkin akan banyak yng menjawab bahwa yang lebih banyak mengharumkan nama bangsa adalah "olahragawan" karena memang yang sering terdengar sebagai pengharum nama bangsa adalah peristiwa olahraga dan pemerintah sendiripun seperti lebih menghargai olah raga daripada seni terbukti dalam permohonan bantuan dana pada pemerintah jika untuk olah raga lebih mudah dapatnya dari pada untuk seni, demikian juga pada sekolah sekolah atau dunia pendidikan lebih mengutamakan olahraga daripada seni, kenapa tidak disamakan atau disejajarkan.

Coba kita tengok kebelakang sejenak apakah memang olahragawan lebih berjasa daripada seniman, seniman berjuang sejak negara belum merdeka sedang olahragawan setelah kemerdeakaan satu contoh lagu Indonesia Raya adalah karya seniman dan tercipta sejak belum kemerdekaan dan persiden RI yang pertama adalah seorang seniman, terbukti beliau adalah pelukis dan kolektor lukisan juga kolektor patung peristiwa olah raga yang mengharumkan nama bangsa masih seputar bulutangkis dan Tinju sedangkan peristiwa seni lebih banyak, mulai vokalis, film, patung pasir anak anak, lukisan dll.

Tapi mengapa seni terasa kurang dihargai dari pada olahraga, atau sering terdengar bentrokan gara gara konser dangdut "itu kan dangdut", padahal juga sering terdengar peristiwa bentrokan gara gara sepak bola, namun tidak terdengar komentar "itu kan sepak bola".

Mungkin karena seniman orngnya banyak yg sabar sehingga diperlakukan demikian hanya tersenyum dan melanjutkan karyanya :)



pernah saya publikasikan (2009)
Selengkapnya »

Mengapa Matematika yang jadi Tolak Ukur?

Mengapa mesti matematika...?? kok bukan yang lain seperti IPA, IPS, Fisika, Kimia Biologi, Sejarah atau yang lainya...??? Sehingga terasa seperti menganak emaskan matematika dan kurang adil, tetapi jika kita menelaah dari setiap ilmu pengetahuan memang matematika hampir selalu masuk dalam bidang-bidang pengetahuan yang lainya. Menurut kata ahli bahwa Matematika merupakan Induk dari segala ilmu pengetahuan sedang Bahasa merupakan Ayah dari segala ilmu pengetahuan.

Mengapa Matematika dikatakan sebagai Induk dari segala ilmu pengetahuan itu dikarenakan semua yang menyukai dengan matematika hampir selalu memiliki tingkat kecerdasan atau tingkat ketekunan dalam menelaah setiap masalah yang dihadapi berada di atas rata-rata sehingga hampir semua anak-anak yang menduduki peringkat teratas di kelasnya selalu memiliki kemampuan dan nilai matematika yang bagus dan sekaligus memiliki tingkat kesabaran dalam menelaah setiap permasalahan yang dihadapi atau mampu meneliti dari setiap kesalahan yang telah dilakukannya

Mengapa Bahasa dikataka sebagai Ayah dari segala ilmu pengetahuan itu dikarenakan semua jenis ilmu pengetahuan memerlukan bahasa untuk media komunikasi agar setiap yang dituangkan bisa menjadikan sesuatu yang bisa dinikmati oleh setiap target dari bidang ilmu pengetahuan tersebut, entah itu bahasa apa yang jelas setiap bahasa memiliki daya hubung bagi setiap yang memahaminya

Dari hal yang di atas maka bisa kita simpulkan bahwa matematika tidak terbatas bentuk bahasa karena matematika memasuki setiap bidang ilmu pengetahuan sedang bahasa terbatas bagi yang memahami atau pada tempat-tempat tertentu saja dan dari situ tersimpulkan yang memiliki kemampuan matematika di atas rata-rata hampir selalu memiliki kemampuan pada bidang-bidang ilmu pengeyahuan yang lain sampai dengan penerapan dari ilmu pengetahuan tersebut


pernah saya publikasikan (2009)
Selengkapnya »